EKONOMI 5 Agustus 2026 3 Min Read

BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Hari Ini, Ekonom Proyeksikan di Bawah 5 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 pada Rabu (5/8/2026). Menjelang pengumuman tersebut, sejumlah lembaga ekonomi memproyeksikan laju pertumbuhan berada di bawah 5 persen akibat melemahnya konsumsi domestik, tingginya harga energi, tekanan geopolitik global, serta meningkatnya biaya produksi.

MU

By Muh. Asdar Prabowo

Jurnalis FORES 5 Agustus 2026

Bagikan:
BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Hari Ini, Ekonom Proyeksikan di Bawah 5 Persen

FOTO: KOMPAS MONEY

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal II-2026 pada Rabu (5/8/2026). Sejumlah ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada semester I-2026 berada di bawah level 5 persen di tengah tekanan dari faktor domestik maupun global.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II-2026 sebesar 4,80 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan rentang estimasi antara 4,78-4,82 persen.

Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menjelaskan bahwa perlambatan tersebut dipengaruhi oleh efek basis yang tinggi karena ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, tidak adanya dorongan konsumsi musiman akibat Ramadan dan Idulfitri yang berlangsung pada kuartal I-2026 turut membatasi pertumbuhan pada kuartal kedua.

Menurutnya, tekanan eksternal juga memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Lonjakan harga energi global dan pelemahan nilai tukar rupiah meningkatkan biaya impor serta biaya produksi dalam negeri. Kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi juga dinilai turut mengurangi daya beli masyarakat.

Sementara itu, Canter of Reform on Economics (CORE) memperkirakan pertumbuhan ekonomi semester I-2026 berada pada kisaran 4,8-4,9 persen. Direktur Eksekutif CORE, Mohammad Faisal, menilai perlambatan dipicu melemahnya konsumsi rumah tangga dan berkurangnya kontribusi surplus neraca perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, investasi dan belanja pemerintah diperkirakan masih menjadi faktor penopang yang mampu menjaga laju pertumbuhan ekonomi selama kuartal II-2026.

Dari sisi domestik, sejumlah indikator ekonomi juga menunjukkan tren perlambatan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mengalami penurunan sepanjang kuartal II-2026, sementara pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan mulai melambat, yang mencerminkan kehati-hatian masyarakat dan pelaku usaha dalam mengelola likuiditas.

Di sisi lain, tekanan inflasi meningkat, terutama pada kelompok harga pangan bergejolak (volatile food). Kenaikan harga pangan dinilai dipengaruhi oleh keterbatasan pasokan di sejumlah komoditas sehingga mendorong inflasi pangan tetap berada pada level tinggi.

Faisal juga menilai kondisi ekonomi Indonesia pada semester I-2026 menghadapi tantangan yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Selain dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia, ketidakpastian kebijakan ekonomi domestik turut menjadi perhatian sejumlah lembaga pemeringkat internasional.

Konflik di kawasan Selat Hormuz disebut meningkatkan harga minyak mentah dunia hingga berada di atas asumsi yang digunakan dalam APBN 2026. Kondisi tersebut memperbesar beban subsidi energi sekaligus meningkatkan biaya produksi sektor industri.

Sebagai respons terhadap tekanan tersebut, Bank Indonesia mengubah orientasi kebijakan moneternya dengan menaikkan suku bunga acuan secara bertahap untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi.

Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, menilai meningkatnya impor dibandingkan ekspor berpotensi mengurangi kontribusi ekspor neto terhadap PDB sehingga turut menekan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026.

Pengumuman resmi BPS pada hari ini akan menjadi acuan utama untuk menilai kinerja ekonomi Indonesia pada paruh pertama 2026 sekaligus memberikan gambaran mengenai prospek pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

💬 0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tinggalkan Komentar

🔒 Komentar ditampilkan setelah moderasi.