HANKAM 2 Agustus 2026 2 Min Read

Bom Truk Guncang Cucuta, 14 Orang Terluka Jelang Pelantikan Presiden Kolombia

Sebuah bom truk meledak di dekat kantor polisi di Kota Cúcuta, Kolombia, Sabtu (2/8/2026), mengakibatkan 14 orang terluka. Insiden yang terjadi beberapa hari menjelang pelantikan presiden terpilih Abelardo de la Espriella itu memicu peningkatan pengamanan, sementara pemerintah Kolombia menuding kelompok gerilya National Liberation Army (ELN) sebagai pelaku serangan.

MU

By Muh. Asdar Prabowo

Jurnalis FORES 2 Agustus 2026

Bagikan:
Bom Truk Guncang Cucuta, 14 Orang Terluka Jelang Pelantikan Presiden Kolombia

FOTO: CNN INDONESIA

Cúcuta – Sebuah bom truk meledak di dekat kantor polisi di Kota Cúcuta, Kolombia, Sabtu (2/8/2026), yang mengakibatkan sedikitnya 14 orang mengalami luka-luka. Ledakan terjadi hanya beberapa hari sebelum presiden terpilih Abelardo de la Espriella dijadwalkan dilantik pada 7 Agustus 2026.

Pemerintah Kolombia menuding kelompok gerilya National Liberation Army (ELN) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Menteri Pertahanan Kolombia Pedro Sanchez menyebut ELN sebagai "narkoteroris" dan mengumumkan hadiah lebih dari US$64.000 bagi masyarakat yang memberikan informasi hingga pelaku dapat ditangkap.

Berdasarkan data resmi pemerintah, korban luka terdiri atas 11 anggota kepolisian dan tiga warga sipil. Ledakan juga menyebabkan kendaraan yang digunakan dalam serangan terbakar serta merusak sejumlah bangunan di sekitar lokasi kejadian.

Gubernur Departemen Norte de Santander, William Villamizar, mengatakan dua anggota polisi berada dalam kondisi kritis dan masih menjalani perawatan intensif.

Presiden terpilih Abelardo de la Espriella mengecam keras aksi tersebut dan menegaskan serangan itu tidak akan melemahkan negara.

"Tindakan terorisme tidak akan mengintimidasi Kolombia," tulis De la Espriella melalui akun X miliknya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut mengecam serangan tersebut dan menyatakan ledakan telah menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat.

Serangan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan politik menjelang pergantian pemerintahan. De la Espriella sebelumnya menyatakan akan mengakhiri proses perundingan damai yang dijalankan Presiden Gustavo Petro dengan berbagai kelompok bersenjata, termasuk ELN.

Perundingan damai antara pemerintah Kolombia dan ELN sendiri terhenti sejak Januari 2025 setelah kelompok tersebut melancarkan serangan terhadap kelompok rival di wilayah timur laut Kolombia yang menewaskan lebih dari 100 orang.

Menjelang pelantikan presiden, pemerintah juga memutuskan memindahkan lokasi pelantikan dari Gedung Kongres di Bogota ke Kota Cali. Sebanyak 11.000 personel militer dan kepolisian akan dikerahkan untuk mengamankan jalannya pelantikan melalui operasi darat, laut, dan udara.

Situasi keamanan di Kolombia dalam beberapa tahun terakhir terus memburuk akibat meningkatnya aktivitas kelompok bersenjata, penggunaan bom dan pesawat nirawak bermuatan bahan peledak, serta serangan terhadap aparat keamanan. Presiden Gustavo Petro, yang masih menjabat hingga pelantikan pemerintahan baru, belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.

💬 0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tinggalkan Komentar

🔒 Komentar ditampilkan setelah moderasi.