AS Kehabisan Amunisi akibat Perang Iran, Rusia dan China Berpeluang Manfaatkan Celah
Perang AS melawan Iran selama lebih dari lima bulan dilaporkan menguras persediaan rudal dan amunisi Amerika Serikat. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap kesiapan militer Washington di Eropa dan Indo-Pasifik serta berpotensi memberi ruang strategis bagi Rusia dan China untuk memperkuat posisi geopolitiknya.
By Muh. Asdar Prabowo
Jurnalis FORES • 10 Agustus 2026
FOTO: BBC
WASHINGTON - Persediaan amunisi Amerika Serikat (AS) dilaporkan terus menipis setelah lebih dari lima bulan menjalankan operasi militer menghadapi Iran. Kondisi tersebut mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kemampuan Washington mempertahankan kesiapan tempur di kawasan lain, sekaligus membuka ruang bagi Rusia dan China untuk memanfaatkan celah strategis tersebut.
Ribuan rudal presisi dan sistem pertahanan udara disebut telah digunakan dalam rangkaian operasi serangan maupun pertahanan terhadap Iran. Sejumlah aset militer bahkan dialihkan dari kawasan Eropa dan Asia menuju Timur Tengah untuk mendukung operasi AS.
Peneliti Senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), Tom Karako, menilai berkurangnya persediaan amunisi bukan sekadar persoalan logistik, tetapi dapat memengaruhi perhitungan strategis negara-negara pesaing AS.
"Menipisnya amunisi merupakan pemusnahan generasi terhadap sarana pencegahan konvensional," ujar Karako, dikutip dari New York Times, Sabtu (8/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kalkulasi politik dan militer Rusia serta China dalam beberapa tahun ke depan. Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula tekanan terhadap kemampuan AS mempertahankan kesiapan tempurnya di berbagai kawasan.
Gedung Putih Bantah Krisis Stok Senjata
Kekhawatiran tersebut dibantah Gedung Putih dan Pentagon. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan AS masih memiliki kemampuan militer yang memadai untuk menjalankan berbagai operasi.
Ia juga menyebut industri pertahanan AS terus meningkatkan produksi amunisi sekaligus memperluas kapasitas fasilitas manufaktur.
Leavitt turut mengecam kebocoran informasi intelijen mengenai kondisi persediaan persenjataan AS. Menurutnya, pembocoran informasi rahasia dapat membahayakan keamanan nasional dan harus ditindak secara hukum.
Di sisi lain, sejumlah analis memperkirakan pemulihan stok rudal pencegat Patriot yang telah digunakan dalam konflik dapat membutuhkan waktu lebih dari dua tahun.
Persediaan rudal Patriot yang tersisa juga diperkirakan berada di bawah 1.700 unit. Sementara itu, rudal jarak jauh seperti Army Tactical Missile System (ATACMS) dan Precision Strike Missile (PrSM) disebut mengalami tekanan stok setelah digunakan dalam operasi militer.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kedua jenis rudal tersebut merupakan bagian penting dari kemampuan serangan jarak jauh AS dalam menghadapi konflik berintensitas tinggi.
Ukraina dan Asia-Pasifik Ikut Terdampak
Penurunan ketersediaan sistem pertahanan udara AS juga berpotensi berdampak langsung terhadap Ukraina. Presiden Volodymyr Zelensky disebut menyoroti penurunan bantuan rudal pencegat dari negara-negara Barat yang membuat kemampuan pertahanan udara Ukraina menghadapi tekanan lebih besar dalam menghadapi serangan Rusia.
Di kawasan Asia-Pasifik, persoalan tersebut memiliki konsekuensi yang lebih luas. Pengalihan kapal perusak, kelompok tempur kapal induk, serta sistem pertahanan udara dari kawasan Indo-Pasifik ke Timur Tengah dapat memengaruhi kalkulasi pertahanan AS dan sekutunya.
Situasi ini menjadi semakin sensitif mengingat kawasan tersebut berada dalam lingkungan strategis yang melibatkan China, khususnya terkait keamanan Selat Taiwan.
Para analis memperkirakan keterbatasan kemampuan AS mempertahankan kehadiran militer secara simultan di berbagai kawasan dapat mendorong negara sekutu, termasuk Jepang dan Korea Selatan, untuk memperkuat kapasitas pertahanan mandiri.
Analis pertahanan American Enterprise Institute, Todd Harrison, menilai durasi perang yang semakin panjang akan memperbesar tekanan terhadap persediaan amunisi AS.
"Semakin lama perang ini berlangsung dan semakin sering kita saling baku tembak dengan Iran, semakin buruk masalah amunisi bagi Amerika Serikat," kata Harrison.
Bagi Washington, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut kemampuan mempertahankan operasi di Timur Tengah. Penipisan stok senjata juga menyentuh persoalan yang lebih fundamental, yakni kemampuan AS mempertahankan deterrence secara bersamaan di Eropa, Timur Tengah, dan Indo-Pasifik.
Jika konflik berkepanjangan membuat kemampuan AS harus terus terkonsentrasi di Timur Tengah, Rusia dan China berpotensi memperoleh ruang strategis yang lebih besar untuk menguji respons Washington di kawasan lain.
💬 0 Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!